Manusia Pesisir Muara Jangkaran

*) Studi Kasus Action at the Frontline pada pesisir-muara di Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo, DIY, Indonesia

Salah satu temuan dari proses “Survey Views fom the Frontline” yang dilakukan pada bulan Februari 2015 ini adalah Desa Jangkaran mempunyai  karakteristik risiko yang termasuk dalam zona pesisir (Laut Selatan Jawa), di mana hampir mayoritas responden menyebutkan ancaman utamanya dalah bencana tsunami, gelombang pasang laut ekstrim, dan badai angin kencang. Namun Desa Jangkaran ini juga mempunyai karakteristik ancaman bencana tambahan yang khas, dikarenakan mempunyai muara sungai (muara Sungai Bogowonto) yang berada di tengah wilayah desa, sehingga kemudian responden juga memasukkan ancaman bencana banjir dan abrasi sungai.

      

Ancaman-ancaman bencana utama itu tadi menjadi perhatian dan pemikiran responden dikarenakan akan berpotensi mengganggu penghidupan mereka. Mayoritas warga Desa Jangkaran sekarang ini adalah bermata pencaharian sebagai petani tambak udang dan petani lahan sawah/kebun, yang tersebar pada 8 wilayah dusun. Beberapa dusun yang diperkirakan memiliki potensi ancaman bencana yang tinggi adalah Dusun Kledokan Lor dan Dusun Kledokan Kidul (ancaman abrasi sungai dan banjir), serta Dusun Pasir Kadilangu dan Dusun Pasir Mendit (ancaman tinggi gelombang pasang laut tekstrim dan badai angin kencang).

Untuk menjawab potensi ancaman-ancaman bencana yang kompleks tersebut, salah satu tindakan yang dilakukan oleh warga Desa Jangkaran adalah mengembangkan kapasitas organisasi sosial-nya, yaitu Forum PRB Desa dan Wanatirta Pelestari Mangrove & Pesisir. Organisasi ini mendukung pengembangan pemahaman dan penyebarluasan informasi tentang pentingnya pengurangan risiko bencana, dengan melakukan pendekatan terpadu, bersama dengan Pemerintahan Desa Jangkaran, agar dapat melindungi keselamatan 2.128 warganya. Organisasi ini juga menerima kerjasama dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan lain, baik itu dari LSM, kalangan Akademisi, Swasta maupun instansi Pemerintahan Daerah yang lebih tinggi.

Bapak Warso Suwito, warga Dusun Pasir Mendit yang juga salah seorang penggerak organisasi Wanatirta Pelestari Mangrove & Pesisir, dalam setahun terakhir ini secara intensif mengembangkan perluasan penanaman Mangrove sebagai upaya untuk mengurangi ancaman bencana gelombang pasang laut dan abrasi sungai.

“Dulu kami kebingungan untuk mengatasi gelombang pasang laut dan banjir sungai yang terjadi setiap tahun. Pintu muara itu tertutup oleh sedimentasi pasir. Sehingga kolam-kolam tambak kami terendam oleh air, akibatnya pada masa-masa itu kami sering mengalami kerugian gagal panen hasil tambak.”, kata Pak Warso dalam sebuah wawancara di sela-sela pengambilan data responden “Survey Views from the Fontline” ini.

Demikian juga halnya dengan Ibu Sugiyanti, warga Dusun Nglawang yang juga bersama suaminya, Bapak Teguh Hidayat (petani tambak), adalah anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana Desa (FPRB Desa) Jangkaran, dalam setahun terakhir ini secara intensif mengembangkan kegiatan-keeggiatan sosialisasi pengurangan risiko bencana kepada warga, serta terlibat dalam kegiatan penanaman pohon Cemara Udang di area pinggir Muara guna mengurangi terpaan udara garam dari laut sekaligus penahan abrasi sungai. Beliau mengaku senang bisa ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan ini karena bisa menjadi bertemu dan bekerjasama dengan banyak pihak terkait, sekaligus mendapat banyak informasi dan pengetahuan baru. “Saya berharap semoga warga desa disini dapat hidup semakin makmur dan selamat dari ancaman bencana alam,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Plt Kepada Desa Jangkaran, Bapak Bambang Edi, “ Untuk Desa Jangkaran ini dikarenakan posisinya di pesisir laut selatan dan mempunyai muara sungai besar, menjadikan Jangkaran ini termasuk bertingkat risiko bencana tinggi. Kedepan kami harus mempunyai sarana-prasarana gedung shelter untuk evakuasi warga kami jika terjadi bencana.”

Pembelajaran lain yang dipetik dan langkah selanjutnya
Proses AFL ini menjadi momentum refleksi bersama untuk melihat kekinian atas lokal mereka, dan pengembangan gagasan lokal kedepan. Masyarakat lokal memahami bahwa mereka sendiri lah yang harus bergerak untuk meningkatkan pengetahuan dan informasi, dengan membangun kolaborasi kemitraan, serta meningkatkan kemampuan kapasitas diri (tindakan-tindakan) untuk terus beradaptasi dengan ancaman bencana yang mereka miliki.

FOTO TERKAIT

  • Foto lokasi dan hal khusus yang kita diskusikan pada studi kasus.
  • Foto pihak-pihak utama yang kita diskusikan pada studi kasus – pemimpin, anggota masyarakat, anggota pemerintah setempat, pemuda – siapapun pihak-pihak kunci pada studi kasus

*) Ditulis oleh Ignasius Kendal, 08562687265 (Yayasan Hijau)

One thought on “Manusia Pesisir Muara Jangkaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *