Fenomena Migrasi Satwa Liar untuk Mode Peringatan Dini Bencana Gunung Api

*) Sebuah Catatan Lapangan Merapi 2010

Ekologi Gunung Api Merapi, Relasi Intim Manusia dan Alam.

Gunung Merapi sebagai kawasan ekosistem penting bagi penyangga wilayah sekitarnya, baik itu bagi wilayah Provinsi Jawa Tengah dan wilayah DIY. Salah satu fungsi penting kawasan hutan lereng gunung ini adalah sebagai daerah tangkapan air (catchment area) sehingga memberikan jasa atas memastikan penyediaan sumber air permukaan. Selain itu, dengan kekayaan vegetasi yang dimiliki tersebut juga menjadikan sebagai penyedia jasa udara bersih.

Jasa-jasa yang dihasilkan untuk kemanfaatan manusia itu berlangsung sedemikian rupa secara berkelanjutan melalui sistem daur hidup keanekaragaman hayati, koneksi antar struktur rantai kehidupan fauna (keragaman satwa liar primata, aves, mammalia, insect, reptilian, amfibia, & rodentia) dan flora (keragaman vegetasi pohon kayu, tumbuhan paku, tumbuhan palem, rerumputan, semak, tumbuhan pioner, bakteri, jamur, lichenes dan lumut kerak) dalam kawasan alami tersebut.

Demikianlah ekosistem tropis, ada banyak komponen yang menjadikan daur hidup ekosistem dapat berjalan dengan baik. Komponen-komponen itu merupakan bagian dari jaring kehidupan yang menjaga keberadaan keberlanjutan ekosistem. Salah satu komponen adalah spesies aves (burung). Dengan kelimpahan makanan biji-bijian dan bunga-bunga, ekosistem hutan Gunung Merapi menjadi habitat alami bagi sekitar 150–200 spesies burung. Menjadi tempat nyaman bagi para burung untuk bersarang dan melangsungkan reproduksi.

Nah, melihat manfaat mutlak untuk kawasan ini bagi kebutuhan keberlanjutan kehidupan manusia, maka menjadi penting memastikan keberlangsungan jasa-jasa lingkungan ini tetap beroperasi dengan baik. Bagaimana caranya, maka diselenggarakan perlindungan dan konservasi keanekaragaman hayati yang berkelanjutan oleh pihak otoritas negara, yaitu kantor Balai Taman Nasional Gunung Merapi.

Gambar 1. Peta kawasan Taman Nasional Gunung Merapi

Kawasan ekosistem kita ini memiliki keunikan lain, Gunung Merapi memiliki karakter vulkanik, bahkan sebagai gunung api teraktif di dunia. Ada keuntungan dari karakter ini, menjadikan tanah lahan di sekitar menjadi sangat subur. Namun, kadang terjadi situasi krisis yang kurang menguntungkan, bahkan bisa sangat menegangkan, yaitu ketika gunung api ini erupsi. Tapi kemudian, berangsur akan menjadi situasi harmonis kembali. Demikian kira-kira perjalanan siklus kehidupan ditempuh, hidup bersama alam (Gunung api Merapi).

Kehidupan mata pencaharian sehari-hari komunitas (masyarakat) lokal pada sekitar lereng Gunung Merapi ini juga berbasis pada potensi tersebut. Dari kelimpahan air permukaan dan lahan tanah subur, mereka mengembangkan perekonomian pertanian sawah (padi), pertanian kebun (salak) dan berternak sapi. Relasi manusia dan alam ini sebagai suatu hubungan (komunikasi) mutualis, yang telah berlangsung dalam kurun waktu sangat lama, dan menjadikan ter-elaborasi sedemikian rupa melekat dalam kehidupan mereka, sebagai dinamika cara hidup (budaya Jawa) di lereng Gunung Merapi.

Cara hidup yang mengejawantahkan harmoni hidup manusia berdampingan alam, sekalipun alam yang memiliki risiko bencana tinggi. Pemahaman ‘harmoni hidup’ tadi selalu diingatkan kembali melalui tindakan bersama, secara berkala diselenggarakan, dalam bentuk-bentuk perayaan (ritual budaya) atas kesadaran, kehangatan serta keintiman dalam relasional kultur & natur tersebut.

Gambar 2. Kerusakan kawasan Kalikuning (Sleman, 5 Desember 2010)

Ketika situasi berubah, aktifitas vulkanik gunung api mulai meningkat dan mengeluarkan tanda-tanda potensi eruptif. Maka komunitas tempatan juga mempunyai tingkat pemahaman atas perubahan situasi, yang tidak bisa kita abaikan begitu saja dalam dunia modern (beserta degradasi ekologis yang menyertai modernitas itu) sekarang. Mereka (sungguh) memiliki sekumpulan pengalaman empiris yang signifikan, menjadi bentuk pengetahuan yang tersampaikan turun temurun secara lisan (bahasa), dan dikonfirmasi berulang secara tindakan dalam berbagai kesempatan sehari-hari. Mereka menyebut kelengkapan sistem tanda untuk berhadapan dengan perubahan situasi alam itu sebagai “ilmu titen” (bahasa jawa), kumpulan pengetahuan terapan.

Salah satu perangkat terapan itu, mereka menyebutkan tanda perilaku perpindahan (migrasi) satwa liar, yang bergerak menjauh dari hutan lereng Gunung Merapi. Mereka menceritakan identifikasi visual untuk migrasi spesies aves (raptor/burung pemangsa, burung betet, burung madu gunung, cekakak jawa, dederuk jawa, ceret gunung, gagak hutan, perenjak jawa, kacamata biasa, kacamata gunung, dan lain-lain) dan migrasi spesies mamalia (kijang, kancil, babi hutan, macan tutul, macan kumbang) pada beberapa titik lokasi di wilayah Kabupaten Sleman-DIY. Pada beberapa titik lokasi di wilayah Kabupaten Klaten-Jawa Tengah menceritakan identifikasi visual untuk migrasi spesies rodentia (tikus tanah-gunung). Demikian juga, dari beberapa titik lokasi di wilayah Kabupaten Magelang-Jawa Tengah menceritakan pengetahuan visual migrasi spesies mamalia (kijang, kancil, babi hutan, macan tutul, macan kumbang, macan loreng) beserta spesies primata (kera ekor panjang, lutung), pergerakan rombongan itu mengikuti jalur sumber air atau mengikuti alur sungai.

Perilaku Soaring Burung Pemangsa sebagai Tanda Visual.

Burung Elang Jawa (Nisaetus Bartelsi) termasuk spesies burung pemangsa (raptor) endemik Pulau Jawa, yang masih menjadikan kawasan hutan lereng Gunung Merapi sebagai habitat alaminya. Di dalam kawasan ini juga ada keberadaan burung pemangsa lain, seperti Alap-alap (Falco sp), Sikep-madu Asia (Pernis ptilorhynchus), Elang hitam (Ictinaetus malayensis), dan Elang-ular bido (Spilornis cheela). Mereka semua menjadi kelompok pemangsa puncak dari piramida rantai makanan pada ekosistem disitu. Peran pemangsa puncak ini adalah pengatur keseimbangan populasi, sekaligus sebagai indikator kualitas alamiah ekosistem. Spesies burung pemangsa ini juga memiliki kepekaan tinggi terhadap perubahan kondisi yang berlangsung di dalam ekosistemnya.

Komunitas (masyarakat) lokal memiliki relasi atas kehadiran burung pemangsa ini melalui identifikasi suara dan identifikasi perilaku terbang. Saat terbang, burung ini mempunyai perilaku unik yaitu hemat tenaga, disebut soaring. Yaitu terbang berputar-putar menambah ketinggian dengan bantuan dorongan thermal atau hantaman angin menuju keatas. Thermal ini membentuk tiang udara panas yang naik didorong oleh udara dingin di sekitarnya. Selanjutnya, gelembung tiang udara panas yang besar tadi akan menanjak dengan kuat sehingga burung elang dapat berputar-putar terbang di dalamnya. Berputar ke atas maupun kebawah. Nah, ketika thermal ini menjadi terlalu panas, burung ini akan terbang menghindar untuk mencari tempat dengan thermal nyaman bagi mereka.

Gambar 3. Kawasan Gunung Merapi sebagai habitat alami bagi beberapa jenis burung pemangsa (raptor)

Selain perilaku terbang, burung pemangsa teramati selalu mencari area dengan sediaan mangsayang cukup. Mangsa spesies ini beragam, mulai dari jenis pengerat (tikus gunung, tupai, bajing, dll), sampai mamalia kecil. Catatan disini, jenis pengerat ini juga sensitif terhadap perubahan kondisi tanah (bumi) sekitar. Nah, ketika terjadi peningkatan aktivitas gunung api, dimana kondisi tanah meningkat hangat dan panas, pengerat (tikus gunung) juga akan berpindah ke tempat nyaman.

Pengetahuan Visual Komunitas Lokal.

Pagi itu, saya mengunjungi Mbah Cokro (72 tahun) di Dusun Tunggul Arum (Kecamatan Turi-Kabupaten Sleman-DIY). Duduk di ruang tamu rumahnya, dengan sajian minuman teh panas terasa begitu nikmat. Langit cerah dan angin berhembus sejuk basah, sepertinya menandai nanti siang akan turun hujan di sini.

Kami memulai berbincang tentang pengalaman kanak-kanak. Gunung Merapi menjadi tempat kelahiran Mbah Cokro dan menjadi tempat tinggal hingga kini. Dusun kelahiran ini terletak di lereng yang berjarak 5 kilometer dari puncak gunung api paling aktif di dunia. Leluhur mengajarinya untuk belajar dan ‘merasakan’ alam. Kebiasaaan melakukan pengamatan visual atas kondisi puncak gunung api itu juga, menjadikan Mbah Cokro menjadi memiliki kumpulan sistem kode atas pengalaman pengetahuan empiris tentang perilaku terbang burung, angin lereng dan titik api puncak gunung.

“Kalo saya, dari mengamati perilaku terbangnya burung. Burung tidak bisa berbohong. Jadi, ada keterkaitan antara perilaku terbang burung, angin lereng dan titik api puncak gunung, yang kemudian akan menandai apa selanjutnya terjadi. Kalo situasi siang, yang terlihat pada puncak gunung adalah kepulan asap panas, kalo situasi malam, baru terlihat sebagai titik api. Nah yang pertama kali merespon perubahan peningkatan suhu panas di seputar puncak gunung dan arah angin lereng itu adalah kawanan burung. Sejak kejadian erupsi tahun 1961, fenomena tersebut cocok sebagai pedoman (guidelines), kurang lebih sudah menandai 10 kali kejadian erupsi kecil-besar hingga sekarang.”, kata Mbah Cokro.

“Dan karena bekal ilmu titen tadi, yang dimiliki sejak nenek moyang, telah berhasil menyelamatkan ratusan nyawa manusia disini. Padahal dulu juga ada letusan besar, tapi kami selamat berkat mengamati perilaku terbang burung, angin lereng dan titik api puncak gunung itu sebagai tanda peringatan dini untuk kapan saat harus menyingkir…”, ujarnya menambahkan.

“Yang membuat kami bisa begitu, mungkin karena kami hidup di gunung, bukan bekerja di gunung. Sehingga, ilmu titen itu menjadi pedoman kami, untuk mempertimbangkan perkembangan kondisi perubahan dan keputusan kolektif untuk menyingkir ke tempat aman.”
Kronologis kehidupan sehari-hari sebagai perjalanan cara hidup (budaya Jawa) dan penghidupan berbasis alam (hutan-gunung api) itu telah menjadikan ‘ilmu titen’ sebagai semacam mode pengetahuan untuk bagaimana hidup dan bertahan hidup. Dari sini, kita dapat menangkap konteks kehidupan manusia rings of fire, dengan cara melihat hubungan relasional yang tampak sederhana namun mendalam dan kompleks tadi. Dimana disitu yang diperlihatkan adalah wawasan dan kapasitas dalam mengelola kehidupan di kawasan rawan risiko terdampak langsung bencana gunung api. Mereka sepertinya telah menerapkan upaya “zero victim” sejak berpuluh-ratusan tahun lalu, dan cara itu melekat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ini yang menarik, sangat spesial.

Kerusakan Akibat Peristiwa Erupsi 2010 dan Pemulihan Habitat.

Peristiwa erupsi Gunung Merapi tahun 2010 berdampak hebat. Seluas 459 hektare hutan di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi rusak berat terkena material vulkanik. Di Kabupaten Sleman – DIY, luasan vegetasi rusak mencapai 309 hektare; di Kabupaten Magelang – Jawa Tengah yang rusak mencakup luasan 100 hektare; dan di Kabupaten Klaten – Jawa Tengah mencakup seluas 50 hektare. Erupsi telah menyebabkan sebagian besar vegetasi roboh dan nyaris rata dengan tanah. Sebagian dari vegetasi tersebut adalah tegakan kayu yang sudah berusia puluhan tahun. Dan kerusakan ini berarti juga terganggunya kualitas habitat alami, kerusakan rumah satwa liar disitu.

Perkiraan kerusakan juga terjadi pada tanaman di luar area 459 hektare hutan TNGM tadi. Di Kabupaten Magelang, kerusakan tanaman akibat debu panas mencapai sekitar 1.800 hektar dan di Kabupaten Boyolali mencapai sekitar 1.000 hektar.

Gambar 4. Peta tampilan kerusakan vegetasi TNGM pasca erupsi

Gambar 6. Peta tampilan migrasi satwa liar berdasar informasi perjumpaan dan temuan lapangan.

Kerusakan kualitas habitat satwa liar di dalam kawasan dapat kita jumpai pada beberapa lokasi. Area habitat dan sarang burung elang di Resort TNGM Cangkringan terbakar oleh awan panas. Demikian juga terjadi pada kawasan Resort TNGM Plawangan-Tlogoputri Kaliurang.

Dari observasi dan kompilasi data perjumpaan lapangan, peristiwa erupsi 2010 itu mengakibatkan migrasi berbagai jenis spesies satwa liar, seperti monyet ekor panjang, macan kumbang, macan tutul, dan unggas hutan (ayam hutan merah Gallus gallus), ke berbagai tempat di sekitar Gunung Merapi yang relatif aman dari dampak awan panas. Kemungkinan ke hutan lereng Gunung Merbabu atau hutan bukit terdekat.

Untuk spesies primata, seperti jenis monyet ekor panjang, ada yang eksodus ke hutan lereng Gunung Merbabu, melalui koridor Selo-Magelang. Dalam perjalanannya, mereka juga mengkonsumsi sayur dan buah di kebun-kebun milik warga setempat.

Demikian halnya untuk karnivora besar, beberapa titik lokasi memberikan informasi identifikasi migrasi macan kumbang dan macan tutul.

Pada spesies burung (aves), selain migrasi jenis raptor tadi, kami menduga bahwa ada individu-individu burung dari jenis lain yang kurang mampu menanggapi cepat hembusan awan panas.

Nah pada pasca erupsi ini, perlu dikembangkan kegiatan  pemutakhiran pemetaan potensi populasi burung di dalam kawasan taman nasional. Pendataan menjadi langkah yang diperlukan untuk mengamati proses pemulihan habitat. Suksesi alami mungkin berlangsung dalam rentang waktu yang tidak bisa dipastikan. Bantuan manusia bisa saja diperlukan dalam hal ini, melalui intervensi restorasi habitat. Dengan menanam kembali (pengkayaan/enrichment) beberapa jenis pohon lokal (seperti : pohon rasamala, puspa, damar, kina, pakis, paku besar, mlandingan gunung, kaliandra, gayam, jambu kluthuk, duwet, gondang dan jenis-jenis ficus) yang tumbuh di dalam hutan lereng Gunung Merapi, untuk mempercepat pemulihan kualitas habitat. Pasca erupsi, pemulihan kondisi kualitas habitat menjadi hal penting dalam upaya konservasi burung di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi.

Kerja Belum Usai, Mari Melanjutkan Langkah Kedepan.

Dari observasi lapangan, perjumpaan dengan komunitas lokal maupun spesies burung pemangsa itu sendiri (pasca kejadian erupsi), sungguh memperkaya khasanah gagasan dan pemikiran pemahaman atas ekologi gunung api. Memberikan inspirasi untuk lebih mendalami model kerangka pendekatan relasional (duplex approach). Agar turut menyumbangkan kontribusi upaya pengurangan risiko bencana, maupun penanggulangan bencana terkait konteks gunung api. Seperti kita ketahui bersama, bentang alam kita memiliki 129 gunung api yang berderet cantik.

Namun kami sadar, masih dibutuhkan pendalaman pemikiran intensif, pengumpulan data-data empiris, konfirmasi berulang, kompatriot diskusi, dan kritik proses yang membangun. Sehingga semakin mempertajam kesempatan memahami dan uji terapan dari kerangka pendekatan tadi.

Seiring berjalan, langkah kecil dilakukan, menceritakan kembali relasi manusia dan alam ini kepada generasi mendatang. Untuk memunculkan pengembangan pemikiran dan apresiasi atas keunikan ekologi dan pengurangan risiko bencana (maupun penanggulangan bencana) gunung api. Melalui cara bermain dan belajar, anak-anak usia sekolah dasar bisa mengembangkan proses identifikasi pemahaman relasi manusia dan alam tersebut. Dimana, komunitas lokal menjadi mahaguru bagi anak-anak generasi itu, sebagai penutur kebajikan-kebijakan normatif yang masih ada berjaga hingga masa modern kini.

=====

Keywords : Gunung Merapi, bencana erupsi 2010, ekologi gunung api, orang-orang gunung api, pengalaman empiris, pengetahuan lokal, hidup bersama alam, ilmu titen, sistem peringatan dini, zero victim, burung pemangsa, raptor, soaring, Taman Nasional Gunung Merapi, suksesi alami, restorasi habitat, enrichment, kerangka pendekatan relasional, kultur&natur, pembangunan berkelanjutan, sustainable development goals.

 

Ditulis oleh: Ignasius Kendal & tim Kluster Lingkungan
Gugus Tugas Tanggap Darurat Erupsi Merapi 2010 FPRB DIY
(Yayasan Hijau GPL / email: kendal161@yahoo.com / hp: 08562687265)