Mendaki Gunung Untuk Kembali

Kompas, Selasa, 19-05-2015. Halaman: 14, Rubrik Wisata Alam.

Tersesat di lebat hutan, jatuh ke jurang, menghirup gas beracun, hingga hipotermia hanyalah sebagian bahaya yang bisa mengancam nyawa pendaki di gunung-gunung di Indonesia yang mayoritas gunung api aktif. Namun, di balik bahaya yang mengintai pendaki, gunung-gunung tak pernah sepi didaki.

Bahkan, akhir-akhir ini pendakian ke gunung-gunung di Indonesia semakin ramai seiring kian populernya petualangan ke alam. Jika George Mallory, pendaki Inggris, kesulitan menjawab pertanyaan wartawan New York Times (1923) tentang mengapa mendaki gunung tertinggi di Bumi, Everest, sehingga menjawab, ”Because it’s there,” kini kian banyak alasan untuk ke gunung. Salah satu alasan yang populer di kalangan anak muda, mungkin, adalah mendaki untuk berfoto diri, lalu memamerkannya di sosial media.

”Jangankan berfoto selfie di Puncak Merapi, mendaki ke sana saja sebenarnya dilarang. Pendakian ke Merapi hanya diizinkan hingga Pasar Bubrah pada ketinggian 2.500 mdpl. Alasannya, bebatuan di puncak Merapi masih labil akibat letusan 2010,” kata Surono, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Senin (18/5). Ia berada di Yogyakarta untuk memantau evakuasi Erri Yunanto (21), mahasiswa yang terperosok ke kawah Merapi.

Risiko di gunung

Bagi para pendaki, kepuasan menapak puncak gunung kerap dianggap sepadan dengan risiko. Tak heran jika Ernest Hemingway, penulis Amerika peraih Nobel Sastra, menyebut, ”Pendakian gunung merupakan olahraga sejati, selain adu banteng dan balapan mobil, sedangkan yang lain hanyalah permainan.”

Alasannya, jika seorang penjaga gawang salah mengantisipasi bola, dia barangkali hanya akan kalah bertanding. Akan tetapi, seorang pendaki yang terpeleset ke jurang, apalagi ke kawah gunung api, kemungkinan besar berujung maut.

Menurut Sofyan Arief Fesa, pendaki Seven Summits 2011 yang juga pengelola ekspedisi, pendakian ke gunung memang berisiko. Ancamannya bisa bersifat obyektif karena kondisi gunungnya, tetapi mayoritas bersifat subyektif karena kelalaian pendaki. ”Risiko kematian di gunung bisa diminimalkan. Kuncinya persiapan yang baik dan tidak menyepelekan setiap pendakian,” kata Arief, yang telah mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di dunia bersama tim Mahitala-Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Menurut Arief, kecelakaan di gunung paling sering karena minimnya perlengkapan dan pengetahuan dasar. Banyak pendaki terkena hipotermia karena pakaian tembus dingin dan air. Padahal, gunung di Indonesia curah hujannya tinggi dan lembab.

Di samping itu, banyak pendaki tersesat karena tak membawa peta dan kompas ataupun global positioning system (GPS). Padahal, sebagian besar gunung di Indonesia berhutan lebat dan banyak punggungan yang menyesatkan. ”Saya yakin pendaki sekarang jarang bawa peta atau kompas. Kalaupun bawa, tidak tahu memakainya,” katanya.

Menurut Surono, gunung di Indonesia, khususnya gunung api, memiliki karakter spesifik. Salah satunya adanya ancaman letusan dan semburan gas beracun. ”Pendaki yang celaka di gunung api biasanya karena berada di zona bahaya dan mengabaikan larangan,” katanya.

Sebelum kasus Merapi, April lalu, seorang pemandu pendakian meninggal di puncak Gunung Marapi, Sumatera Barat. ”Saat itu, Marapi masih Waspada dan terlarang ke puncaknya. Sebelumnya juga ada pendaki yang tewas di Kawah Sindoro, Jawa Tengah,” katanya.

Apa pun alasannya, mendaki gunung tetap tidak sepadan jika harus dibayar dengan nyawa. Seorang pendaki sejati tidak hanya mendaki ke puncak gunung, tetapi mendaki untuk kemudian kembali pulang dengan selamat dan menemui orang-orang terkasih. Selamat bersiap.

(Ahmad Arif)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *