Fenomena Cacing di Yogyakarta

Akhir-akhir ini, masyarakat D.I.Yogyakarta dihebohkan dengan banyaknya cacing yang bermunculan dari dalam tanah dengan kondisi yang lemas seperti kepanasan. Kondisi ini mengingatkan kembali memori masyarakat pada saat-saat menjelang terjadinya gempa bumi 27 Mei 2006.

Untuk menyikapi hal tersebut, beberapa pihak telah memberikan penjelasan terhadap fenomena tersebut. Mbah Rono (Dr. Surono, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM RI) berpendapat bahwa kemungkinan besar hal tersebut terjadi akibat perubahan iklim pancaroba. Munculnya cacing ke permukaan tanah kemungkinan besar karena reaksi adanya perubahan cuaca dari musim hujan ke musim kemarau. Surono menuturkan, Kabupaten Bantul memang merupakan wilayah rawan gempa. Pada 1943, pernah terjadi gempa dan kembali terulang pada 2006. Lalu, saat ini, tahun 2015, timbul pertanyaan, apakah selama kurun waktu sekitar sembilan tahun apakah energi yang terkumpul sudah cukup untuk terjadi gempa seperti 2006? (Kompas.com, Rabu (3/6/2015).

Hal senada juga diungkapkan oleh Prof. Ir. Sunarno, M.Eng, Ph.D dari Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknik UGM. Menurut Sunarno, dari alat early warning system (EWS) gempa, tidak menunjukkan gejala akan datangnya gempa besar. “Kalau ada perubahan signifikan pada EWS gempa bumi kami, kami akan share 1 minggu sebelumnya. Alat kami sekarang tenang semua, tidak ada gejala-gejala yang mengkhawatirkan,” tuturnya kepada detik.com. Alat EWS yang dimiliki Sunarno berdasar konsep Kyushu University Jepang (gempa Kyushu) dan dari jurnal ilmiah tentang fenomena awal munculnya gas radon sebelum gempa besar (gempa Kobe).

Sementara soal fenomena cacing yang keluar akhir-akhir ini di Bantul, dia memperkirakan karena salah satunya perubahan kelembaban tanah dan suhu tanah. Perubahan cuaca dari hujan ke kemarau juga menyebabkan cacing bertingkah laku seperti itu. (www.detik.com, Rabu (3/6/2015).

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mochmamad Riyadi memastikan ada fenomena cacing keluar dari tanah yang abnormal. Namun itu dipastikan bukan akibat gempa bumi atau perubahan tekanan.

Ada tiga poin yang disampaikan Riyadi dalam keterangan tertulisnya kepada detik.com, Rabu (3/6/2015). Pertama, soal beredarnya kabar cacing yang keluar dari tanah dalam keadaan lemas. Fenomena tersebut benar adanya. BMKG menduga, keluarnya cacing tersebut karena guyuran hujan dua hari berturut-turut setelah beberapa hari terakhir tidak hujan sama sekali. Pada tanggal 27-30 Mei 2015, tidak ada hujan, namun pada 31 Mei sampai 1 Juni hujan turun cukup signifikan. Ditambahkan Riyadi, dari monitoring prekursor stasiun Pundong selama 1 minggu (25 Mei-2 Juni) tidak menunjukkan adanya perubahan parameter temperatur tekanan, temperatur bawah permukaan dan emisi radon (detik.com, Rabu (3/6/2015).

*) Ditulis oleh Wawan Andriyanto, SH. (YP2SU)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *