Forum PRB DIY Terlibat dalam konferensi International Preparatory Commitee for Habitat III

Mendengungkan Strategi Pengurangan Risiko Bencana dalam Pembangunan Berkelanjutan

Tahun ini kota Surabaya menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan konferensi international Preparatory Commitee for Habitat III (25 – 27 Juli 2016) “The United Nations Conferense on Housing and Urban Sustainable Development (Habitat III).  Dalam kesempatan ini, Forum PRB DIY turut berpartisipasi dalam konferensi tersebut

(Diwakili oleh Aris Sustiyono – Koordinator bidang I untuk Advokasi, regulasi dan kebijakan)

Konferensi  Habitat merupakan konferensi global yang dilaksanakan setiap 20 tahun sekali.  Konferensi ini menghasilkan komitment global untuk memastikan bahwa perumahan dapat diakses oleh semua.

Terdapat perbedaan antara konferensi Habitat 2 yang dilakukan tahun 1996, agenda pada tahun tersebut hanya memastikan perumahan yang terjangkau untuk rakyat.

Sedangkan konferensi Habitat 3 ini akan menghasilkan komitment “New Urban Agenda” yang mengatur tentang perumahan untuk rakyat, mengatur kota yang layak untuk ditinggali baik itu lahan dan perumahan serta perekonomian yang ada di dalamnya.  Ini sejalan dengan populasi dunia bahwa sebanyak 50% masyarakat tinggal di perkotaan (karena migrasi, dan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat).
Fokus Forum PRB DIY dalam konferensi ini adalah membangun jejaring dan koordinasi dengan stakeholder yang relevan, khususnya menyangkut agenda advokasi forum 3 tahun kedepan yaitu pengarusutamaan PRB dalam pembangunan yang berkelanjutan.  Forum akan mengikuti sessi-sessi yang dapat memberikan referensi dan input untuk program pembangunan yang berkelanjutan bagi DIY.

Terdapat tokoh-tokoh penting yang akan berbicara dalam urban corner speaker:
Rukhyat Deni (Dirjen Cipta Karya):Roadmap to Habitat
Mercy Corps :Kota berketahanan
Hasto Wardoyo (Kulon Progo) :Hubungan antara Kota dan Desa
Edi Muhammad (Bappeda Kota Yogyakarta) : Strategi kota Yogyakarta dalam mewujudkan kota inklusif

Dalam salah satu yang “city social movements” , di manapun di dunia ini, perencanaan kota sering menunjukkan gap kaya miskin. Lihat Jakarta: ada kawasan elit, super elit, segi tiga emas, dan kawasan kumuh. Pembangunan model begitu sering melupakan banyak hal, termasuk PRB. Hal ini diungkapkan oleh Saleh Abdullah, Pegiat Insist Yogyakarta

Hal ini dibenarkan oleh Rani Hapsari, Koordinator Forum PRB DIY “tidak ada Kota tanpa warga sehingga kebutuhan warga termasuk yg tinggal di pemukiman kumuh, pemukiman informal, dan yg tinggal di daerah rawan bencana perlu dilibatkan dalam perencaanaan pembangunan yg berkelanutan dan berkeadilan”. (fprb DIY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *