Ternyata Masih Ada Bara dan Api yang Tidak Berjauhan

*) Sebuah Catatan Lapangan tentang Relasi Inovasi Konservasi Lingkungan, Ketahanan Pangan, Komunitas Pinggiran dan Pembangunan Berkelanjutan

Di tengah gerak percepatan pembangunan nasional dan krisis global sekarang ini, satu hal paralel untuk menjadi perhatian dan gerak penting adalah proporsional kapasitas daya dukung lingkungan, untuk tidak melebihi ambang batas ekstraksi, sehingga kedepan tidak memicu timbulnya potensi risiko di bentang alam tempatan (dan ekosistem yang lebih meluas), yang akan dapat mengganggu kualitas hidup-penghidupan-kehidupan komunitas masyarakat. Dibutuhkan gagasan-gagasan praktik inovasi konservasi yang mementingkan pro-poor dan kehidupan yang berkelanjutan. Pembangunan jangan sampai menciderai hak kemanusiaan mereka (komunitas). Dan, pembangunan jangan lah terlalu sering untuk semata-mata tunduk kepada kepentingan pemodal besar dan investasi komersial yang ekstraktif.

Namun, disamping itu adalah yang terpenting, yaitu bagaimana dengan segenap daya (kegembiraan, identitas, kepribadian, sumber daya lokal) yang kita punya untuk mampu sumbangsih kontribusi bagi kegembiraan gerak pembangunan nasional dan menyemangati pembangunan global untuk kedepan yang lebih baik.

Pepen Ber(t)ani Organik Karena Benar
Sejak tahun 1979-1980an, pembangunan pertanian belum menjadikan komunitas masyarakat petani (produsen bahan pangan) menjadi mandiri sejahtera dan kaya. Permasalahan kemiskinan (rumah tangga petani) belum juga terpecahkan hingga kini. Petani didiamkan berhadapan sendiri dengan keajaiban komersial, karena setiap musim tanam petani harus membeli benih ajaib-nya lagi dan lagi, menjadi ketergantungan dengan industri benih ajaib dan menghancurkan pengetahuan pertanian masyarakat. Hingga kemudian panen pun, pembayaran hasil tanipangan oleh negara melalui operasi pembelian dengan harga dasar (harga gabah). Jika ada kekisruhan kekurangan ketersediaan bahan pangan, maka lekas dibuka keran impor (permainan konglomerasi importir), agar harga pasar tidak melambung, sambil bagi-bagi (meski tetap membeli) beras murah (beras miskin). Nah, rumah tangga petani dari pendapatan penjualan berdasarkan harga dasar tadi itu, mereka selanjutnya bergegas berbelanja (meningkatkan konsumsi) ke pasar atau toko untuk membeli beras dengan harga pasar, untuk ketersediaan di rumah tangga nya masing-masing. Sedemikian rupa sehingga lumbung padi-nya jaman sekarang adalah pasar itu sendiri. Demikian seterusnya, berulang setiap saat.

Pengetahuan (diskursus) itu menjadi titik tolak gagasan gerakan komunitas petani muda Kelompok Tani Setia Maju Dusun Pepen-Kadisobo I beserta Karang Taruna Triwira Manunggal yang berada di Desa Trimulyo, yang mulai sekitar tahun 2013, membangun pengembangan perekonomian pertanian padi organik dan pemasaran beras organik dalam kemasan (BODK) ke tangan konsumen langsung. Desa dengan jumlah populasi penduduk sekitar 9.000-an jiwa ini terletak di Kecamatan Sleman di wilayah Kabupaten Sleman, dimana mayoritas penduduk bermata pencaharian masih dalam bidang budidaya pertanian.

Sejak tahun 2013 lalu, komunitas petani muda Kelompok Tani Setia Maju Dusun Pepen-Kadisobo I menggulirkan dan menerapkan secara intensif gagasan tentang tata kelola perekonomian desa dengan pertanian organik secara mandiri. Dimulai dengan penguatan proses produksi, seperti tahap pengolahan lahan dengan penyubur yang memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk, mengatur peminjaman bank benih padi lokal saat musim tanam, penguatan kualitas kelola ternak rumah tangga pada kandang komunal, peningkatan peralatan sarana produksi pertanian organik, hingga pengembangan olahan hasil panen dan pemasaran produk organik ke tangan konsumen langsung (direct selling). Konsumen dari kalangan menengah ke atas menjadi peluang awal untuk pemasaran produk mereka.

Pada tanggal 13 Februari 2014, aktifitas praktik gerakan mereka ini mendapatkan perhatian tinjauan langsung dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, dimana beliau menyampaikan apresiasinya terhadap kembangan upaya peningkatan perekonomian desa dengan pertanian organik ini. Hal ini semakin menguatkan gagasan dan semangat mereka.
Strategi terus dikembangkan.Produk beras organik yang mereka jual ke pasar adalah surplus dari hasil panen rumah tangga petani pengelola organik ini. Hasil panen mereka bagi dalam dua bagian, yaitu yang pertama untuk stok cadangan pangan rumah tangga, dan yang kedua untuk penjualan produk beras organik dalam kemasan. Dari strategi sederhana yang aplikatif ini, mereka akan menjaga ketahanan pangan rumah tangga petani hingga musim panen berikutnya.

Proses gerakan itu memang bukan dicapai dalam waktu singkat dan tidak gampang juga, namun telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka. Dan, pada bulan Agustus tahun 2016, mereka mendapatkan sertifikasi lahan organik berstandar SNI untuk lahan seluas 6,2 hektare yang mereka kelola secara organik. Sehingga komoditas apapun mereka budidayakan di lahan itu, otomatis akan menghasilkan produk organik bagi pasar mereka.

Pengembangan ragam produk organik mereka lakukan, mulai dari beras organik dalam kemasan, olahan produk kosmetika masker wajah beras organik, olahan potensi komoditas sayur dan buah.

Dari sini, potensi pasar menjadi semakin meluas.Pemasaran produk beras organik dalam kemasan merk Setia Maju ini mulai berkembang menjangkau konsumen di wilayah Yogyakarta, Semarang, serta mulai masuk Jakarta.Bahkan, ada penjajagan tawaran kerjasama dari Jepang untuk pemasaran produk organik ini disana, namun masih terus mereka pelajari mekanisme dan kesepakatannya.

Sejalan dengan kemajuan jaman, mereka terus meningkatkan penguatan kapasitas sumber daya dalam manajemen pengelolaan finansial, aksesibilitas terhadap lembaga finansial/bank, serta pengembangan kegiatan wisata edukasi pertanian organik.

Hasil ekonomis dari usaha produktif pertanian beras organik dengan luas hamparan sekitar 6 hektare, yang telah dikembangkan mulai empat tahun belakangan oleh Kelompok Tani Setia Maju Dusun Pepen-Kadisobo 1 ini cukup signifikan. Jika diambil rerata 3 (tiga) ton per hektare (untuk dikemas jual sebagai beras organik dalam kemasan) dengan 2 (dua) kali masa panen dalam setahun, maka dalam setiap tahunnya ada kontribusi menggerakkan perekonomian dusun ini dengan sirkulasi omzet hingga sekitar lebih dari 90 (sembilan puluh) juta rupiah. Bagaimana jika menjadi 3 (tiga) kali masa panen, bayangkan saja.Hasil gerak kreatif yang luar biasa.

Rencana tahap selanjutnya, dalam waktu dekat ini, mereka akan menambah kapasitas supply produk beras organik dengan perluasan lahan produksi baru sekitar 20 hektare lagi, ini merupakan kolaborasi kelola pemanfaatan tanah kas desa. Menyambut rencana tersebut, belakangan pihak Desa Trimulyo pun merencanakan memasukkan program usaha produktif perekonomian pertanian organik ini sebagai salahsatu dari tiga bidang pokok di dalam rencana pengembangan BUMDES (Badan Usaha ekonomi Milik Desa; tengok UU Desa No 6 Tahun 2014) Desa Trimulyo. Sehingga kedepan, Desa ini akan berpeluang berkontribusi juga dalam menyukseskan implementasi program 1000 desa organik dari pemerintah nasional. Dan sekaligus juga, kontribusi kecil untuk tujuan mengurangi ancaman kelaparan (end hunger) dari kerangka komitmen global Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Mereka lah istimewa itu. Terimakasih, “the world is watching”.

Refleksi
Dari kompilasi pengalaman lapangan tersebut, ada yang sangat menarik untuk dicermati lebih lanjut. Bahwa pertanian skala kecil atau peasant(pada generasi muda sekarang kedepan) sepertinya telah insaf terhadap tekanan pertanian skala yang lebih besar yang mencengkeram pasar (empire yang mengendalikan produksi, pengolahan dan distribusi pangan: konsentrasi kesejahteraan), sehingga mereka mengelola persaingan tersebut dengan melakukan diversifikasi terhadap hasil atau produk pertanian mereka. Berbagai produk dan jasa jenis baru tersebut diiringi dengan penciptaan pasar dan jalur pemasaran (short-sircuit, direct selling via internet dan media sosial) yang baru.Penciptaan jalur pemasaran baru ini kemudian mengembangkan sirkulasi perekonomian lokal di perdesaan tersebut.

Penciptaan jalur pemasaran baru ini sekaligus menyenggol peluang kerjasama lokal yang baru.Jangan salah, mereka telah mulai membayangkan untuk mencukupi pemenuhan permintaan kebutuhan konsumen dengan mendampingi bertumbuhnya pertanian organik oleh komunitas muda di tempat-tempat yang lain, sebagai jaring pengaman supply produk tersebut.Kolaboratif ini menjadi kekhasan dalam sistem baru ini, yang sebenarnyanaluri atau corak tersebut telah ada sejak lama.Yaitu, corak nilai dan kekuatan gotong-royong atau sambatan atau tidak mengedepankan melulu uang sebagai panglima, dimana disini otomatis semua pihak di dalamnya terlibat secara langsung, berbagi peran, berbagi kemampuan, berkontribusi sesuai kapasitasnya, dan mereka semua sebagai subyek. Kolaborasi gotong royong atau sambatan ini sekarang banyak mendapat stigma sebagai tradisional-kuno, namun oleh komunitas-komunitas muda tersebut berhasil didayagunakan ulang secara kekinian sebagai jejaring kesamaan ide crowd-producing. Perkembangan kedepan, ini mungkin bentuk korporasi jenis baru yang menguntungkan semua, mereka pernah melontarkan gambaran desain lini semacam ini.

Kegembiraan hadir menghiasi proses mereka disana-sini. Mereka pun secara berhasil telah menemu-kenali kembali jenis mobilisasi sumber daya yang dipakai sebagai input bisa berasal dari dalam sistem pertanian perdesaan (dalam kasus ini malahan tingkat unit lebih kecil lagi, yaitu sistem dusun) itu sendiri, bukan dari pasar (dari luar sistem mereka). Mulai dari pengadaan benih padi, pupuk, hingga distribusi, seperti yang telah diceritakan di atas.

Biaya produksi dan pengolahan menjadi lebih ekonomis bagi mereka. Dan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap input pertanian yang diproduksi oleh industri pertanian.

Dari pengalaman lapangan itu, praktik pertanian organik mereka (pertanian peasant) telah dapat memproduksi pangan yang cukup dan baik, serta melakukannya dengan caralebih berkelanjutan, tanpa merusak lingkungan seperti pertanian revolusi hijau (intensifikasi). Ini mungkin merupakan jalan terbaik yang berpotensi langsung kearah kedaulatan pangan, sesuai dengan tantangan kemajuan jaman sekarang.Kedepan, kita akan mampu kembali untuk mengelola kompleksitas kehidupan (sosial, ekologi, budaya, ideologi, ekonomi) sehari-hari dengan tetap pada kepribadian kita, dalam arus percepatan pembangunan nasional dan pembangunan (krisis) global. ==000==

Ditulis oleh Ignasius Kendal (087877166192/Yayasan Hijau/Anggota Forum PRB DIY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *