Category Archives: Kliping Media

Laporan Situasi dampak Siklon Tropis CEMPAKA 27-28 November 2017, Kamis Wage, 30 November 2017

Laporan Situasi dampak Siklon Tropis CEMPAKA 27-28 November 2017, di wilayah DIY
Kamis Wage, 30 November 2017
Per Pukul 13.30 WIB

Siklon Tropis Cempaka dinyatakan sudah bukan katagori siklon tropis lagi oleh Staklim BMKG Mlati Yogyakarta. Namun setelah berakhirnya siklon tropis tersebut akan berganti menjadi LPA (Low Pressure Area/daerah pusat tekanan rendah) yang masih memberikan dampak berupa hujan sedang- lebat serta angin kencang yang hampir merata di seluruh DIY. Masyarakat terdampak siklon tropis cempaka pada hari ini telah memulai untuk membersihkan rumah dan lingkungannya, terkecuali yang terdampak cukup berat. Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Bantul telah menetapkan status Tanggap Darurat sehingga sudah mendirikan Posko untuk penanganan lebih optimal. Berikut beberap titik kumpul warga terdampak yang berhasil dihimpun.

ANGIN KENCANG
Dampak :
– 149 titik kejadian Pohon Tumbang di wilayah DIY, meliputi: Kota Yogyakarta 10 titik, Kabupaten Bantul 76 titik, Kabupaten Kulon Progo 28 titik, Kabupaten Gunungkidul 9 titik, Kabupaten Sleman 26 titik.

Kerusakan :
– Rumah rusak 17 unit.
– Pohon tumbang 107
– Motor rusak 1 unit.
– Kandang 1 unit.
– Menimpa jaringan telepon 4
– Menimpa jaringan listrik 19
– Fasilitas kesehatan 1 unit
– Fasilitas ibadah 2 unit
– Fasilitas perkantoran 1 unit
– Fasilitas pendidikan 1 unit.

Korban Jiwa:
– 3 korban luka-luka

LONGSOR
Dampak :
– 151 titik kejadian Longsor di wilayah DIY, meliputi : Kabupaten Bantul 46 titik, Kabupaten Kulon Progo 61 titik, Kabupaten Gunungkidul 10 titik, Kabupaten Sleman 20 titik, Kota Yogyakarta 14 titik.
Kerusakan :
– Menimpa rumah, mengancam rumah warga & fasilitas umum, menutup Akses Jalan, Bangket Ambrol dan menjebol tembok masjid pondok Pesantren.
– Jembatan rusak 3 unit
– Jalan rusak 5
– Talud rusak 8
– Rumah rusak 63 unit.
– Fasilitas pendidikan rusak 2
– Fasilitas ibadah rusak 1
– Menimpa jaringan listrik 3
– Tempat usaha rusak 1
– Pohon tumbang 13 titik
– Hewan ternak 3 ekor
– Mobil 1 unit
– Kandang 2 unit.
Korban jiwa:
– 6 korban luka
– 6 korban Meninggal dunia

BANJIR
Dampak :
– 135 titik kejadian Banjir di wilayah Kabupaten Gunungkidul 44 titik, Kabupaten Kulon Progo 6 titik, Kabupaten Bantul 57 titik, Kabupaten Sleman 27 titik, Kota Yogyakarta 1 titik.
Kerusakan :
– Fasilitas Pendidikan, Pasar, bangunan kandang, ternak mati, fasilitas umum, cagar budaya, Permukiman, jembatan, jaringan Listrik dan putusnya akses jalan.
– Jembatan rusak 4 titik.
– Jalan rusak 1 titik
– Talud 1 titik.
– Rumah rusak 11 unit.
– Kandang terendam 1
– Fasilitas pendidikan terendam 6
– Fasilitas kesehatan terendam 1
– Tempat usaha terendam 2
– Fasilitas perkantoran terendam 2
– Pohon tumbang 2 titik.
– Hewan ternak 1 ekor.
– Motor rusak 1 unit.
– Kandang rusak 1 unit.
– Saluran drainase rusak ringan 1
– DAM Rusak 2
– Fasilitas Ibadah rusak 1
Korban jiwa:
– 1 korban Meninggal dunia
PENGUNGSIAN
– Total titik pengungsian ada 80 titik dengan jumlah jiwa 8679 jiwa.
Dampak Umum
– Meninggal dunia 6 jiwa
– Luka luka 9 jiwa
– Rumah rusak ringan 86 unit
– Rumah rusak sedang 21 unit.
– Rumah rusak berat 15 unit
– Kandang 5 unit.
– Motor rusak 2 unit.
– Mobil 1 unit.
– Hewan 6 ekor.
– Pohon tumbang 122
– Tempat usaha 1 unit.
– Menimpa jaringan telepon 4 titik.
– Menimpa jaringan listrik 22 titik.
– Dam rusak 2 titik.
– Talud 7 RS 2 RR
– Saluran drainase rusak ringan 1
– Fasilitas kesehatan rusak 1.
– Fasilitas ibadah rusak 4.
– Fasilitas perkantoran 1
– Fasilitas pendidikan 3.

Warga Terdampak:
– -+ 3003 Jiwa di Gunungkidul
– -+ 1072 jiwa di Kulon Progo
– -+ 4527 jiwa di Bantul
– -+ 151 Jiwa di Kota Yogyakarta
– -+ 214 Jiwa di Sleman

Tindakan Yang Dilakukan:
Petugas, warga dan relawan melakukan evakuasi dan pertolongan kepada para warga terdampak. pemotongan, pemangkasan dan menyingkirkan pohon tumbang, mendirikan pos pengungsian, pendistribusian barang bantuan dan pendirian dapur umum (DU).

Petugas/lembaga Yang terlibat dalam penanganan:
BPBD, POLRI, Warga masyarakat, Komunitas relawan, Muspika, Pemdes, PLN, Dinsos, Dinkes, TNI, BASARNAS, SAR DIY, SAR MDMC, Menwa, SKIN, YEU, MTA, Satlinmas Rescue Istimewa, PMI DIY.

Sumber Informasi: BPBD Kabupaten/Kota, TRC BPBD DIY, Warga Masyarakat dan Komunitas Relawan

Demikian laporan sementara kejadian di wilayah DIY.

Diterbitkan oleh : Pusdalops PB DIY

PUSDALOPS PB DIY
📞 call center : 0274 555585
📲 whatsapp : 0274 555584
📡 facebook : pusdalopsbpbddiy
🛰 twitter : @pusdalops_diy
📧 email : pusdalopsdiy@gmail
📟 Freq Radio : 170.300 MHz output, 165.300 MHz input, -5000 _Simplek dengan tone 88,5
📞 Emergency Call TRC BPBD DIY : 085103630700

Belajar dari bencana Garut

Oleh : Redaksi Beritagar @beritagar| 17:46 WIB – Kamis , 22 September 2016

beritagar Pemerintah Kabupaten Garut dan Jawa Barat seakan tak mau belajar dari peristiwa banjir yang pernah terjadi di Garut. Padahal banjir dan longsor pernah terjadi pada 2011. Saat itu tercatat tiga rumah hanyut diterjang banjir aliran Sungai Cimanuk. Pada 2014, banjir dan longsor juga kembali terjadi. Kali ini lebih parah. Banjir lumpur itu merendam sedikitnya 720 unit rumah, 95 kolam ikan, ternak, sapi dan domba. Amuk Sungai Cimanuk itu juga menghanyutkan 7 unit rumah dan 35 unit rumah lainnya rusak.

Dan kini, banjir dan longsor terjadi pada Selasa (20/9/2016) itu lebih parah. Malam yang tenang itu berubah menjadi petaka. Tak hanya menyebabkan kerusakan bangunan dan infrastruktur tapi juga menghilangkan nyawa warga. Tercatat kurang lebih 23 orang meninggal dan 18 orang lainnya belum ditemukan. Ini merupakan peristiwa terparah sepanjang sejarah banjir dan longsor di wilayah itu.

Seperti biasa, ketika peristiwa terjadi para pejabat setempat selalu sibuk berkoar-koar mencari sebab musababnya. Bencana ini, memang tidak kita inginkan. Namun semestinya, pemerintah setempat sudah bisa belajar dari dua peristiwa yang pernah terjadi. Sehingga peristiwa yang terjadi Selasa lalu itu setidaknya bisa dicegah.

Apalagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa sejak 1980 daerah aliran (DAS) Sungai Cimanuk di Kabupaten Garut yang bermuara ke Kabupeten Indramayu itu sudah ditetapkan status kritis. Daerah aliran Sungai Cimanuk sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian.

Berdasar data yang ada di BNPB, pada 1995 penduduk sekitar DAS Cimanuk kurang dari 3,08 juta jiwa. Namun pada 2005 jumlah mereka meningkat signifikan menjadi 4,4 juta jiwa.

Kepala Pusat Data dan Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, parameter kerusakan DAS Sungai Cimanuk diukur dari koefisien regim sungai (KRS) atau perbandingan debit maksimum saat terjadi banjir dan perbandingan debit minimun saat tidak terjadi banjir pada musim kemarau.

DAS dikatakan buruk jika koefisien regim sungainya(KRS) di atas 80. Di sungai Cimanuk koefesien regimnya 713 KRS. Bisa dibayangkan, betapa parahnya kerusakan yang terjadi di sungai itu. Imbasnya, ketika terjadi hujan lebat dikonversi ke permukaan dan terjadi banjir, ketika hujan reda banjir lebih cepat surut.

Jika dibandingkan dengan sungai-sungai besar yang ada di Pulau Jawa, seperti Bengawan Solo dan Sungai Brantas, KRS Sungai Cimanuk amatlah buruk.

Ciri-ciri DAS yang rusak adalah jika terjadi hujan dengan intensitas besar maka debit air akan meningkat drastis sehingga meluber ke daerah pinggiran sungai. Apabila hujan reda, maka luberan air akan cepat mengering.

Rusaknya DAS Cimanuk ini bisa jadi disebabkan karena pinggiran sungai yang mulai berubah fungsi. Mulai dari permukiman hingga tanah pertanian dan perkebunan.

Rusaknya DAS Sungai Cimanuk memang bukan satu-satunya penyebab. Tokoh masyarakat Cikajang, Asep Sopyan, punya informasi. Pada 2008, tanah Hak Guna Usaha Perusahaan Daerah Agribisnis dan Pertambangan (PDAP) Perkebunan Teh Pamegatan yang berada di Kecamatan Cikajang, Cigedug, dan Banjarwangi milik Pemprov Jabar memiliki luas sekitar 1.070 hektare dari sebelumnya 1.947 hektare.

Namun tanah itu dibiarkan. Karena pembiaran itu, pada 2010, lahan tersebut hanya tersisa seluas 782 ha. Lahan yang semula digunakan sebagai perkebunan teh itu, akhirnya 60 persennya telah digunakan sebagai lahan pertanian tanaman holtikultura oleh masyarakat.

Karenanya, tak salah apa yang dikatakan Ketua I Forum Jawa Barat Selatan Suryaman Anang. Menurut dia, alih fungsi lahan di hulu Sungai Cimanuk terjadi karena kurangnya pengawasan serta pemeliharaan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap lahan perkebunan yang dikelolanya. Padahal sudah lama diprediksi bahwa alih fungsi itu akan menyebabkan banjir dan longsor.

Penguasaan secara ilegal oleh masyarakat itu membuat sebagian warga Jawa Barat resah. Pada November 2010, warga yang tergabung dalam Forum Jawa Barat Selatan menyampaikan surat resmi bernomor 106/BLJ-E/X/2010 kepada Gubernur Jawa Barat. Salah satu yang mereka sampaikan menyangkut pembagian zona. Mereka meminta lahan itu dibagi 3 zona peruntukan di antaranya lahan yang layak untuk pertanian sayuran, perkebunan dan konservasi, juga lahan yang bisa dijadikan permukiman masyarakat.

Lain lagi yang diungkapkan Badan Pengelola Lingkungan Hidup Jawa Barat. Menurut Kepala BPLHD Jawa Barat, Anang Sudarna, bencana ini sebagai buntut dari aktivitas pembangunan yang melanggar ketentuan rencana detail tata ruang (RDTR). Sejumlah kawasan lindung di Garut ternyata sudah berubah peruntukan.

Pernyataan ini terasa aneh. Karena, Anang sebagai orang yang punya kapasitas seharusnya bisa mengantisipasi sejak awal soal pelanggaran RDTR.

Karenanya, seharusnya peristiwa banjir dan longsor di Garut ini menjadi momentum bagi kita semua untuk kembali meninjau dan mengembalikan seluruh DAS dan hutan lindung lainnya ke peruntukan aslinya. Karena potensi banjir dan longsor tidak hanya ada di Garut tapi juga di daerah lainnya yang bisa jadi karena punya penyebab yang sama dengan yang ada di Garut.

Alangkah eloknya, jika stakeholder saat ini mulai duduk bersama, memetakan daerah-daerah mana saja yang rawan dan berpotensi banjir dan longsor. Mungkin langkah ini sudah pernah diambil. Tapi –sekali lagi–sangatlah baik jika mereka kembali duduk dan langsung mengeksekusi hasil keputusannya. Jika memang harus ada yang ditindak, tindaklah. Jangan sampai bencana di Garut ini sekedar lewat dan nanti akan kembali ribut lagi ketika ada bencana lain datang.

Sumber: https://beritagar.id/artikel/editorial/belajar-dari-bencana-garut

9 Tahun Gempa Jogja: Pentingnya Investasi Pengurangan Risiko Bencana

Oleh: Gatot Saptadi

Masih melekat dalam ingatan kita, sembilan tahun yang lalu, tepatnya hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006 pada pukul 05.55 WIB, terjadi peristiwa yang tidak pernah dan tentu saja tidak boleh dilupakan, yaitu gempabumi tektonik di DIY berkekuatan 5,9 skala richter yang berlangsung selama 57 detik, dengan posisi gempa berada sekitar 25 km selatan-barat daya Yogyakarta. Continue reading

Mendaki Gunung Untuk Kembali

Kompas, Selasa, 19-05-2015. Halaman: 14, Rubrik Wisata Alam.

Tersesat di lebat hutan, jatuh ke jurang, menghirup gas beracun, hingga hipotermia hanyalah sebagian bahaya yang bisa mengancam nyawa pendaki di gunung-gunung di Indonesia yang mayoritas gunung api aktif. Namun, di balik bahaya yang mengintai pendaki, gunung-gunung tak pernah sepi didaki. Continue reading

Fenomena Migrasi Satwa Liar untuk Mode Peringatan Dini Bencana Gunung Api

*) Sebuah Catatan Lapangan Merapi 2010

Ekologi Gunung Api Merapi, Relasi Intim Manusia dan Alam.

Gunung Merapi sebagai kawasan ekosistem penting bagi penyangga wilayah sekitarnya, baik itu bagi wilayah Provinsi Jawa Tengah dan wilayah DIY. Salah satu fungsi penting kawasan hutan lereng gunung ini adalah sebagai daerah tangkapan air (catchment area) sehingga memberikan jasa atas memastikan penyediaan sumber air permukaan. Selain itu, dengan kekayaan vegetasi yang dimiliki tersebut juga menjadikan sebagai penyedia jasa udara bersih. Continue reading